Assalamualaikum. Salam Petang.
Hai. Aku Hasna. Kali ini aku mau cerita sedikit perihal yang kulalui hari ini. Tidak banyak, hanya sepenggal muhasabah untuk diri sendiri pun untuk teman-teman jika berkenan. hehe. Jadi agenda aku hari ini sudah tersusun sejak kemarin, hingga kemarin malam pun aku sudah pamit sama Mama untuk kegiatan hari ini.
Pagi tadi, setelah sholat subuh, beres-beres rumah, bantu mama jagain bos kecil dan olahraga ringan aku pun bersiap-siap untuk berangkat menjalankan agenda hari ini.
“Eh, Na kalau sempat dan bisa, kamu cepat pulang ya. Soalnya adikmu tadi telpon minta diantarin kain pel sama pembersihnya,” ujar mama tiba-tiba.
Aku mengkerut bingung.
“Insya Allah ya, Ma. Kan Hasna sudah bilang tadi malam, setelah servis motor Hasna mau lanjut ngajar ba’da dzuhur, sekitar jam 1 sampe sore.”
Aku menarik napas panjang, sepertinya hari ini akan terasa panjang. Sebelum berangkat ke tempat servis aku meminta STNK motor sama mama. Mama mengelak katanya dulu waktu dia pergi ke tempat servis gak dimintain STNK. Aku pun bersikeras, memaksa, sementara mama sedang memberi ASI si bos kecil. Akhirnya aku mengalah dengan mengancam, “Awas aja ya, kalau sampe dimintain, kumales bolak-balik soalnya.” ucapku sebelum akhirnya mencium tangan mama kemudian pamit.
Suasana hatiku sedang baik saat keluar rumah terlebih cuaca pagi ini juga tampak cerah. Sampai ketika aku tiba di tempat servis motor –Bye the way, motor aku itu motor apa, gak perlu kusebut ya –semuanya terasa kacau, termasuk suasana hatiku. hiks.
Saat tiba di dealer tempat aku akan servis motor, ternyata dealernya sudah buka, padahal saat itu masih pukul delapan pagi. Kata mama, saat dia ke tempat itu, mereka buka pada pukul Sembilan pagi, itulah alasan aku datang pukul delapan agar bisa lebih cepat mendaftar. Kulihat para karyawan tampak sibuk, mencek satu-persatu motor yang sudah terparkir rapi untuk diperbaiki dan ada yang tampak sudah mulai mengotak-atik motor. Aku memarkir motorku kemudian berjalan pelan, celingak-celinguk mencari orang setelah melihat ke meja pendaftaran yang tampak tak berpenghuni. Tak lama tampak bapak-bapak tinggi, agak gendut berseragam dealer tersebut mendekatiku.
“Ada apa mbak?” tanyanya.
“Mau Servis, Pak,” jawabku halus.
“Ada STNKnya?”
“Ha? STNK?” aku terkejut. Aduh mampus! mamaaaaa! keluhku dalam hati.
“Harus pakai STNK ya, Pak?” Aku masih berusaha meyakinkan dengan intonasi selembut mungkin.
“Kok Tanya saya? Tanya Polisi sana! emangnya naik motor tidak bawa STNK? jangan naik motor kalau tidak bawa STNK!” Ia membentakku keras, mungkin saja ini perasaanku. Tapi kulihat orang-orang disekitar seketika melirikku.
Aku hanya mengangguk, sambil menjawab ohh iya, Pak. Kebayangkan bagaimana perubahan suasana hatiku saat itu, Malu dan aarggghhh.
“Nda bawa STNK ya, dek?” Ia masih melanjutkan pertanyaannya. Aku hanya mampu menggeleng.
“Kenapa tidak bawa STNK? SIM juga tidak bawa?”
Aku menggeleng lagi.
Ia tersenyum mengejek, lalu kembali bertanya, “apanya yang mau diservis?”
“Mau ganti sayap depan dan spionnya, Pak.”
“Sayap depan coba tanya disebelah, ” ucapnya lagi sambil menunjuk dealer besar yang berdiri tepat disebelah tempat servis motor. Kuperhatikan dealer motor itu masih dengan hati terenyuh, merasa sakit, seperti ada yang membendung, siap meluap. ahh gadis cengeng!
Karena tak mampu lagi – tanpa pergi bertanya ke dealer sebelah – Aku berjalan menuju motorku yang terparkir, menyalakannya kemudian melaju dengan butiran tak terbendung di pipiku. Dalam pikiranku terngiang bentakkan bapak-bapak tadi. Inginku mengumpat, namun ditempat yang lain justru berucap istigfar. Aku melaju, berusaha tenang, menarik napas lebih dalam dan menentukan dengan cepat ke mana sebenarnya aku akan pergi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke indekos teman, menenangkan diri.
Kurang lebih, seperti itulah sedikit perihal yang ingin kuceritakan, yang intinya aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Bapak-bapak itu ataupun diriku sendiri yang terlalu lemah. Terlepas dari itu, muhasabah yang kudapatkan adalah bersikap ramah. Bersikap ramahlah, kepada saudara, adik, kakak, orang tua, paman, bibi, nenek, kakek, teman, rekan kerja, pelanggang, siapun itu, Meskipun orang itu lebih muda darimu. Ya, setiap orang memiliki hati yang berbeda, tingkat kelembutannya pun berbeda.Yang intinya bersikap ramah itu perlu. Tapi satu hal yang paling kupelajari. Jadilah kuat. hehe
Selamat Malam. Salam Petang.
Wassalam.
Selasa, 18 Juni 2019
Bersikap Ramahlah, Meski Orang Itu Lebih Muda Darimu
Senin, 18 Maret 2019
Mengapa
Mengapa
Aku menghitung detik
Menit seperti menghela
Seakan waktu memiliki tangan, kemudian menyapaku
Aku meniti detik
Setiap hembusan menit
Seakan waktu memiliki wajah, kemudian mengejekku
Aku menghambur pada detik
Melempar tanya pada menit
Mengapa ada temu?
Jika berpisah pada akhirnya?
Mengapa ada mengikat?
Jika melepas pada akhirnya?
Mengapa ada peduli?
Jika terserah pada akhirnya?
Mengapa ada perjuangan?
Jika merela pada akhirnya?
Mengapa ada menyayangi?
Jika memusuhi pada akhirnya?
Mengapa ada mencintai(TAI)
Jika memBENCI pada akhirnya?
Mengapa ada bersama?
Jika sendiri pada akhirnya?
Waktu, lihatlah skenariomu
Kau biarkan aku bertaman pada temu, pada bahagia, pada keberadaan, pada peduli, pada ikatan, pada kasih, pada cinta dan pada perpisahan.
Lihatlah kau biarkan aku mengeja rasa sakit, mengunyah pilu dan dan menelan duka. Nikmat, seperti menunggu nyawa, seberapa lama ia mampu bertahan.
Waktu, kau biarkan aku mengukir sedikit tapi banyak, seluruh rasa dalam aliran denyut nadiku.
Waktu kau biarkan aku tenggelam pada luasnya lautan kesedihan hingga nafas ini habis dan aku hanya berharap ini segera berakhir.
Waktu, aku adalah patung batu, air mata ini bukan apa-apa, Lihat saja, akan kubalas kau! Sembarangan membuat skenario!
Kau tahu, aku pernah punya mimpi, pernah punya harap, pernah menjadi yang paling bahagia. Pernah, waktu!
Semuanya karena kau!
Waktu, waktu, waktu!!!
Minggu, 15 Juli 2018
MUARA di Bulan JUNI - Peracik Rindu
Pagi ini, entah karena angin apa, atau mungkin karena baru saja membaca tulisan seorang teman tentang isi hati, maka dengan mudahnya pikiranku kembali bermuara pada awal mula kita mengapikkan rasa.
Sebenarnya lagi-lagi aku dihadapkan dengan perasaan tak menentu.
Sebelumnya pernah ada perasaan yang mirip seperti ini, tapi tak sebesar rasa saat ini. Kau tahu, ini berbeda. Kalau dulu, delapan tahun yang lalu pernah ada gadis kecil yang lugu mengagumi seorang kakak kelasnya, hingga kekaguman itu tumbuh menggelisahkannya, gadis itu hanya diam memendam. Saat ini, gadis itu tak sekecil dan selugu dulu, memiliki Kekaguman yang tumbuh entah sejak kapan, yang pasti tanpa ia sadari kau hadir pada setiap detik waktu kosongnya. Menampakkan wajah dan senyum manis dipikirannya tanpa permisi. Gadis itu berani, tak diam memendam.
Kalau dulu ada gadis kecil yang lugu dengan riang menceritakan tentang perasaannya -terhadap kakak kelasnya- kepada teman-teman dan sahabatnya. Kini ada gadis tak sekecil dulu yang dengan bahagia menceritakan tentang perasaannya -terhadap seseorang yang dengan mudah merebut hatinya- kepada saudaranya sendiri.
Kalau dulu, dua tahun yang lalu ada gadis yang diam-diam mengangumi salah seorang senior di universitasnya. Kini, entah sejak kapan gadis itu tak diam meletakkan perasaannya pada salah satu temannya.
Teman. Mungkin itu kata yang tepat, tapi setelah beberapa waktu mungkinkah kata 'Teman' mendapatkan tambahan katanya?
'Teman Hidup' mungkin 😅😂 ----->SKIP<------
Kau tahu, saat itu bumi sedang diguyur hujan. Tepat pada hari pertama di bulan Juni, seperti kata Sapardi, Hujan di bulan Juni. Aku dengan wajah penuh tekukkan menyesalkan hujan harus turun sore itu. Sebab sore itu adalah waktuku untuk berbuat kebaikan dan berbagi kebahagiaan bersama teman-teman baruku, sebut saja seperti itu. Semuanya gagal karena hujan bulan Juni milik pak Sapardi.
Kau tahu, tanpa ada yang merencanakan, sore itu berakhir dengan percakapan tentang perasaan antara aku dan sahabatku. Kuceritakan tentang seseorang dan ia juga menceritakan tentang seseorang. Awalnya kami tak menyebutkan nama, tapi karena penasaran, secara bersamaan kami menyebutkan nama masing-masing orang yang kami ceritakan, dengan syarat cukup berhenti pada kami, tak ada orang lain lagi yang tahu. Maka, sore itu, bersama Hujan bulan Juni milik Kakek Sapardi, kusebutkan namamu dihadapan sahabatku, dan kudengarkan nama seseorang yang disebutkan pula oleh sahabatku. Maka, lengkaplah, semesta tahu perihal seseorang yang ternyata mengganggu pikiranku dan tanpa permisi memasuki ruang hatiku.
Masih kuingat tawa sahabatku sejenak ketika mendengar namamu kusebutkan. Dan pada detik berikutnya, kudengar notice WhatsApp darimu. Katamu, kau ingin menyampaikan sesuatu. Kukatakan, kau menyebalkan, kau dan beberapa orang itu menyebalkan. Kenapa kukatakan seperti itu? Sebab kita sudah bercakap-cakap dalam waktu yang lama dan dipertengahan baru kau meminta izin, itu bodoh, kau tahu. Itu seperti masuk dalam rumah orang tanpa permisi, nanti setelah makan kue dan berbagi rindu dengan orang itu, barulah kau memohon izin untuk masuk ke rumahnya, apasih.
Oke next. Setelah kuizinkan, entah mengapa saat itu juga aku memiliki firasat yang aneh. Kukatakan pada sahabatku bahwa saat ini aku sedang chat denganmu, dan melihat kau sedang mengetik, membuatku secara otomatis deg-degan 😅
Selanjutnya. Seperti mendapatkan bom atom, atau rewards bombastis yang mengejutkan, aku dibuat tak berkutik dalam sekejap olehmu. Oleh tulisanmu. Sore itu, detik itu juga, dalam tulisanmu kau menyatakan perasaanmu, dengan alibi meminta maaf dan menyalahkan rasamu. Tanpa tahu, ada hati yang meloncat kegirangan melebur bersama hujan bulan Juni sore itu. Kau tak akan pernah tahu seberapa kuat dentuman bigbang di hati gadis yang dulu lugu itu.
Sore itu berakhir dengan kebimbangan. Perasaan penuh kedilemaan. Gadis itu tak pernah berhenti berpikir keras sejak sore itu. Sore milik Sapardi, Hujan di bulan Juni menjadi milik gadis itu, Muara di bulan Juni.